Halaman

Senin, 17 Desember 2018

Introspeksi Diri: Mengambil yang Baik dan Meninggalkan yang Buruk

Bulan ini adalah bulan penghujung tahun. Bulan Desember. Bulan menuju tahun baru. Harapan baru. Resolusi baru. Impian baru.

Kita sering mendengar ungkapan "ambilah yang baik, tinggalkan yang buruk". Sepertinya ungkapan ini cocok bila kita terapkan pada bulan ini. Dalam satu tahun yang telah lewat pasti banyak hal yang terjadi. Baik yang kita alami atau kita lihat pada orang lain. Yang tarjadi karena usaha kita atau bantuan orang lain. Yang terjadi karena jasa kita atau jasa orang lain. Ataupun yang terjadi karena kesalahan kita atau mungkin kesalahan orang lain.
Dari semua yang terjadi kita tidak perlu mencari-cari kesalahan orang lain. Yang perlu kita cari adalah hikmah dari kejadian tersebut. Dari sebuah kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Bisa jadi positif atau negatif. Baik ataupun buruk.

Yang baik
Gunakan kejadikan baik yang ada sebagai bekal untuk melakukan dan mendapatkan yang lebih baik lagi di tahun yang akan datang. Seperti ungkapan yang menyatakan bahwa hari ini apabila sama dengan kemarin adalah sebuah kerugian. Oleh karenanya, patutlah bila kita jadikan hari esok harus lebih baik dari sekarang.

Yang buruk
Cukuplah kejadian buruk yang terjadi merupakan masa lalu yang kita jadikan pijakan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Jangan jadikan masa lalu yang buruk menjadi mimpi yang akan selalu menghantui. Cukuplah ia menjadi pengalaman yang akan menjadikan kita selalu waspada agar tidak terperosok ke lubang yang sama.

Lalu bagaimanakah cara untuk menjalankan ; "ambilah yang baik, tinggalkan yang buruk" ???

Yaitu dengan cara muhasabah binnafsi atau introspeksi diri.
Introspeksi menurut KBBI adalah peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri. Dengan introspeksi diri kita akan tahu mana yang baik mana yang buruk. Mana yang harus ditinggal mana yang harus dipertahankan, dan mana yang harus ditingkatkan.

Mungkin kita sering melihat kesalahan orang lain bahkan mungkin mengkritiknya. Sadarkah bahwa kita juga memilikinya? Itulah gunanya introspeksi diri agar kita juga mengetahui kesalahan kita. Melalui introspeksi kita juga bisa melihat apakah suatu tujuan yang sudah sedari awal kita tanam, masih sesuai jalurkah atau sudah melenceng dari yang semestinya.

Dalam introspeksi ada beberapa tahapan yang bisa kita lakukan untuk menjalankannya.

Pertama, sadarilah kelemahan diri sendiri
Kita harus menempatkan diri pada posisi titik paling rendah. Dengan kerendahan hati, kita baru bisa menyadari sebuah kesalahan.

Kedua, buat agenda introspeksi dan dalam semua aspek
Introspeksi biasanya dilakukan setelah selesainya sebuah pekerjaan atau kegiatan. Tapi alangkah baiknya juga dilakukan pada setiap kesempatan. Bahkan sebelum melakukan sesuatu tersebut. Istilahnya, sebelum membangun rumah kita harus merencanakan segala sesuatu dan juga mempertimbangkan resikonya. Ini untuk meminimalisir terjadinya sebuah kegagalan.

Ketiga, gunakan introspeksi untuk proses menuju hidup yang lebih baik
Introspeksi diri bukan berarti menyalahkan atau menghakimi diri sendiri. Tetapi sebuah bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri menjadi lebih baik.

Lalu mengapa introspeksi diri harus dilakukan?

Hal ini didasarkan pada kenyataan (seperti yang dikutip penulis dari IDN TIMES) bahwa :

* Perubahan baik pada diri berlangsung lebih cepat
Jika introspeksi diri berlangsung setiap hari, maka akan banyak kebiasaan negatif yang berkurang.

* Dapat teguran dari pihak lain sesungguhnya kurang nyaman
Dapat teguran dari pihak lain sebenarnya tidak masalah, malahan bagus selama kritikannya obyektif. Introspeksi bisa meminimalisir terjadinya teguran tersebut.

* Pikiran positif senantiasa menyertai
Mau tidak mau, introspeksi akan senantiasa berpasangan dengan cara berpikir positif. Sebab keinginan untuk memperbaiki diri itu lahir dari rahim pemikiran yang baik.

* Mandiri dan mudah menyesuaikan diri dimanapun berada
Ketika sudah memiliki sifat mawas diri, maka tidak akan sulit melakukan evaluasi. Kepribadian semacam ini akan menumbuhkan kemandirian sikap. Tidak tergantung orang lain.

* Kesuksesan akan selalu berteman dengan takdir
Orang sukses adalah orang yang suka belajar hal baru, mau membuka diri terhadap perubahan, masukan dan saran, tidak khawatir akan kritikan, menyukai tantangan dan siap jatuh bangun bekerja keras. Introspeksi diri adalah inti dari sifat-sifat tersebut.

Melalui introspeksi diri, kita akan lebih mudah menentukan tujuan hidup kedepan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena setelah dilakukan introspeksi, kita jadi tahu apa yang sudah membawa kita ke puncak keberhasilan dan juga sebaliknya apa yang sudah membawa kita ke jurang kegagalan.

Jadi,, lakukan introspeksi kemudian janganlah ragu untuk mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar