Halaman

Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Februari 2019

Perlukah Seorang Muslim Menjadi Kaya?

image source: tribunnews.com
Dalam sebuah hadist dijelaskan,
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Hadist ini menerangkan bahwasanya orang miskin yang beriman akan masuk surga lebih dahulu dibandingkan dengan orang kaya, yang tentunya beriman juga.
Lalu, apakah seorang muslim perlu menjadi kaya?

Dalam hadist lain diterangkan,
Sahabat yang mulia, ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu berkata:

بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : “خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى “. فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ : “إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً “. قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . فَقَالَ “: يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ “

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan, “Ambillah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadaplah kepadaku!” Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudhu’. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda, “Aku akan mengutusmu memimpin satu pasukan, semoga Allâh akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap engkau menyukai harta dengan kesukaan yang baik”. ‘Amr bin al-Ash mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, aku tidak masuk Islam karena harta. Tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bersama Rasûlullâh “. Maka beliau bersabda, “Hai Amr, sebaik-baik harta yang baik adalah untuk orang yang shalih”.(HR. Ahmad, no. 18236; dishahîhkan oleh al-Albâni di dalam Takhrij Kitab Musykilatul Faqr)

Dalam keterangan lain dijelaskan pula,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Manusia berbeda pendapat, mana yang lebih utama: orang fakir (miskin) yang sabar atau orang kaya yang bersyukur? Pendapat yang benar adalah: orang yang lebih utama dari keduanya adalah yang paling bertakwa. Jika ketakwaan keduanya sama, derajat keduanya sama, sebagaimana hal ini telah kami jelaskan di tempat yang lain. Sesungguhnya orang-orang fakir (miskin) akan mendahului orang-orang kaya menuju surga. Karena tidak ada hisab (penghitungan harta) terhadap orang-orang fakir, sedangkan orang-orang kaya akan ada hisab (penghitungan harta). Maka orang kaya yang kebaikannya lebih banyak dari kebaikan orang miskin, derajatnya di surga lebih tinggi, walaupun lebih lambat masuk surga dari orang miskin. Sedangkan orang kaya yang kebaikannya di bawah kebaikan orang miskin, derajatnya di surga lebih rendah dari orang miskin”. (Majmû’ Fatâwa 11/21)

Dari beberapa keterangan diatas, menurut pemahaman saya, orang muslim tetap perlu menjadi kaya. Harta akan lebih bermanfaat apabila berada ditangan muslim yang benar.

Zaman sekarang ini, untuk berkuasa, kekuatan utamanya adalah modal. Negara adidaya, adalah negara yang modalnya alias kekayaannya luar biasa. Lihat saja Amerika Serikat atau Tiongkok. Jikalau ingin Islam berkembang dan besar, tentu juga harus punya modal yang cukup. Salah satunya adalah modal harta, karena harta adalah juga senjata. Bahkan yang paling ampuh.

Orang kaya mungkin akan masuk surga lebih lambat dari orang miskin. Karena orang kaya lebih lama hisabnya. Akan tetapi derajatnya di surga bisa lebih tinggi dari orang miskin tersebut.

Mengapa?

Karena jika dia punya kekayaan, dia bisa zakat, dia bisa lebih banyak menolong orang, lebih banyak shodaqoh, serta bisa lebih banyak melakukan kebajikan dengan hartanya.

Ibadah juga perlu modal. Sholat dengan memakai baju kualitas terbaik, tentu lebih baik daripada apa adanya. Membangun tempat ibadah agar nyaman, juga butuh biaya. Ingin naik haji, juga butuh biaya. Ingin berjihad di jalan Allah, akan sulit dilakukan tanpa sokongan harta. Dari sini kita bisa melihat bahwa harta menempati posisi penting didalam ibadah-ibadah tertentu yang diperintahkan Allah swt.

Harta merupakan sarana untuk mencapai kebaikan. Setiap sesuatu yang menyampaikan kepada kebaikan adalah kebaikan pula. Dalam hal ini, harta punya peran penting dalam terwujudnya sebuah kebaikan.

Akan tetapi, terkadang kekayaan bisa membuat orang terlena. Semakin kaya, membuat semakin cinta dunia. Semakin cinta harta. Semakin sibuk mengurusi hartanya. Akhirnya melupakan agamanya. Inilah yang dilarang dalam Islam, dalam hal mencari harta benda.

Dalam Al Qur'an  disebutkan,
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. “ ( Q.S. Al-Jumuah : ayat 10 )

Mencari kekayaan, tidak dilarang dalam Islam. Akan tetapi jangan sampai hal tersebut menjadikan kita lupa akan hakikat manusia itu sendiri, yaitu menyembah pada Tuhannya.
Wallahu a'lam.

Selasa, 08 Januari 2019

Mengapa Ada Orang yang Tidak Mau Menerima Nasehat?

Menyampaikan sebuah kebenaran itu adalah kewajiban bagi kita seorang muslim, karena merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Dalam sebuah hadist dikatakan:
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرَّا
"Katakanlah yang benar walau pahit sekalipun" (HR. Abu Dawud)

Menyampaikan sebuah kebenaran dan juga nasehat itu tidaklah mudah, ada konsekwensi buruk yang terkadang harus kita tanggung dibelakangnya. Sisi baik yang bisa kita dapatkan adalah menjaga saudara, kawan atau orang lain dari terjerumus pada keburukan dan kemaksiatan. Akan tetapi terkadang respon yang berbeda malah kita dapatkan. Yang terjadi adalah, yang diberi nasehat menjadi marah, hatinya dongkol,  benci pada kita, bahkan bisa jadi memutuskan tali silaturahmi.

Mengapa semua itu bisa terjadi?

1. Cara kita memberi nasehat salah
Kita tahu bahwa sifat manusia itu berbeda-beda. Ada yang pemarah, sensitif, penyabar, lapang dada dan lain sebagainya. Untuk itu, ketika menyampaikan nasehat, kita juga harus memahami sifat orangnya. Bagi orang yang penyabar dan lapang dada, tentu tidaklah sulit untuk menyampaikan sebuah kebenaran kepadanya. Tapi bagi orang yang sensitif, apalagi ditambah suka marah, maka dalam menyampaikan nasehat harus sehalus mungkin. Ini bertujuan agar tidak menyinggung mereka, sehingga maksud dan tujuan dari yang kita inginkan bisa tercapai.

2. Salah waktu dan tempat
Salah satu adab dalam memberikan nasehat adalah jangan sampai menyampaikannya dimuka umum. Hal ini akan membuat malu mereka. Demikian juga waktunya, kita harus bisa memilah-milah kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan atau menyimpannya sementara waktu. Dengan melihat tempat dan waktu yang tepat, maka kemungkinan diterimanya nasehat akan lebih besar.

Kalau dua faktor diatas adalah dari sisi yang menyampaikan nasehat, yang berikut ini adalah faktor dari dalam penerima nasehat.

3. Merasa paling benar (keras kepala)
Orang yang keras kepala biasanya sukanya ngeyel. Dia akan terus mencari alasan dan berkelit untuk menunjukan bahwa dirinyalah yang paling benar. Orang seperti ini akan tutup mata, tutup telinga dari segala macam alasan, bukti atau hal pendukung lainnya. Alasannya cuma satu, dia merasa yang paling benar.

4. Merasa lebih baik (sombong)
Mencari hikmah atau manfaat itu bisa dari mana saja. Bahkan dari hewan pun, bisa ada hikmah yang patut diambil. Contohnya etos kerja pada semut, hal ini bisa terapkan pada sebuah tim atau kelompok kerja. Tapi ketika seseorang sudah merasa lebih baik dari orang lain, maka dia akan sulit untuk menerima sebuah nasihat. Orang kaya, yang merasa dia itu lebih kaya dari orang lain, dia tidak akan mau menerima nasehat dari si miskin. Demikian juga orang yang merasa punya ilmu lebih banyak atau berpendidikan lebih tinggi, tidak akan mau menerima nasehat dari orang yang berpendidikan rendah. Semua itu terjadi karena sifat sombong sudah menyatu dalam dirinya.

5. Gengsi
Jaman sekarang, yang namanya gengsi itu sudah mewabah kemana-mana. Beberapa bahkan sudah ada yang melekat erat sehingga sulit untuk dihilangkan. Orang yang gengsinya tinggi, tentunya sulit untuk bisa menerima sebuah nasehat. Dia akan merasa malu bila sampai menuruti nasehat orang lain. Didalam dirinya biasanya sudah terdapat dua sifat diatas, yaitu keras kepala dan sombong.

6. Rasa benci
Apabila rasa benci itu dipelihara, maka ia akan menutupi segala hal termasuk kebenaran dan kebaikan. Orang yang sudah terlanjur benci pada seseorang, dia tidak akan bisa menerima nasehat dari orang yang dia benci tersebut. Walaupun yang dikatakannya adalah hal baik dan benar. Kebenaran itu akan tertutupi oleh rasa bencinya, sehingga semuanya kelihatan salah dan buruk.

Dalam keseharian hidup ini, tugas kita sebagai manusia adalah untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan kepada sesama. Hal ini dimaksudkan agar kita semuanya sama-sama tetap berada dijalur yang diridhoi oleh Allah. Andaikan setelah kita menyampaikan nasehat atau sesuatu hal yang benar ternyata tidak bisa diterima oleh orang yang dituju, itu adalah kekuasaan Allah.
Dalam Al Qur'an surat Al-Qaşaş : 56, diterangkan,
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Yang menjadi kewajiban kita adalah berusaha menyampaikan dengan cara yang baik dan dalam waktu juga tempat yang benar. Untuk hasilnya, kita serahkan saja pada Allah SWT, karena Dia-lah yang lebih tahu yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Wallahu a'lam bisshawab.

Senin, 17 Desember 2018

Introspeksi Diri: Mengambil yang Baik dan Meninggalkan yang Buruk

Bulan ini adalah bulan penghujung tahun. Bulan Desember. Bulan menuju tahun baru. Harapan baru. Resolusi baru. Impian baru.

Kita sering mendengar ungkapan "ambilah yang baik, tinggalkan yang buruk". Sepertinya ungkapan ini cocok bila kita terapkan pada bulan ini. Dalam satu tahun yang telah lewat pasti banyak hal yang terjadi. Baik yang kita alami atau kita lihat pada orang lain. Yang tarjadi karena usaha kita atau bantuan orang lain. Yang terjadi karena jasa kita atau jasa orang lain. Ataupun yang terjadi karena kesalahan kita atau mungkin kesalahan orang lain.
Dari semua yang terjadi kita tidak perlu mencari-cari kesalahan orang lain. Yang perlu kita cari adalah hikmah dari kejadian tersebut. Dari sebuah kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Bisa jadi positif atau negatif. Baik ataupun buruk.

Yang baik
Gunakan kejadikan baik yang ada sebagai bekal untuk melakukan dan mendapatkan yang lebih baik lagi di tahun yang akan datang. Seperti ungkapan yang menyatakan bahwa hari ini apabila sama dengan kemarin adalah sebuah kerugian. Oleh karenanya, patutlah bila kita jadikan hari esok harus lebih baik dari sekarang.

Yang buruk
Cukuplah kejadian buruk yang terjadi merupakan masa lalu yang kita jadikan pijakan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Jangan jadikan masa lalu yang buruk menjadi mimpi yang akan selalu menghantui. Cukuplah ia menjadi pengalaman yang akan menjadikan kita selalu waspada agar tidak terperosok ke lubang yang sama.

Lalu bagaimanakah cara untuk menjalankan ; "ambilah yang baik, tinggalkan yang buruk" ???

Yaitu dengan cara muhasabah binnafsi atau introspeksi diri.
Introspeksi menurut KBBI adalah peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri. Dengan introspeksi diri kita akan tahu mana yang baik mana yang buruk. Mana yang harus ditinggal mana yang harus dipertahankan, dan mana yang harus ditingkatkan.

Mungkin kita sering melihat kesalahan orang lain bahkan mungkin mengkritiknya. Sadarkah bahwa kita juga memilikinya? Itulah gunanya introspeksi diri agar kita juga mengetahui kesalahan kita. Melalui introspeksi kita juga bisa melihat apakah suatu tujuan yang sudah sedari awal kita tanam, masih sesuai jalurkah atau sudah melenceng dari yang semestinya.

Dalam introspeksi ada beberapa tahapan yang bisa kita lakukan untuk menjalankannya.

Pertama, sadarilah kelemahan diri sendiri
Kita harus menempatkan diri pada posisi titik paling rendah. Dengan kerendahan hati, kita baru bisa menyadari sebuah kesalahan.

Kedua, buat agenda introspeksi dan dalam semua aspek
Introspeksi biasanya dilakukan setelah selesainya sebuah pekerjaan atau kegiatan. Tapi alangkah baiknya juga dilakukan pada setiap kesempatan. Bahkan sebelum melakukan sesuatu tersebut. Istilahnya, sebelum membangun rumah kita harus merencanakan segala sesuatu dan juga mempertimbangkan resikonya. Ini untuk meminimalisir terjadinya sebuah kegagalan.

Ketiga, gunakan introspeksi untuk proses menuju hidup yang lebih baik
Introspeksi diri bukan berarti menyalahkan atau menghakimi diri sendiri. Tetapi sebuah bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri menjadi lebih baik.

Lalu mengapa introspeksi diri harus dilakukan?

Hal ini didasarkan pada kenyataan (seperti yang dikutip penulis dari IDN TIMES) bahwa :

* Perubahan baik pada diri berlangsung lebih cepat
Jika introspeksi diri berlangsung setiap hari, maka akan banyak kebiasaan negatif yang berkurang.

* Dapat teguran dari pihak lain sesungguhnya kurang nyaman
Dapat teguran dari pihak lain sebenarnya tidak masalah, malahan bagus selama kritikannya obyektif. Introspeksi bisa meminimalisir terjadinya teguran tersebut.

* Pikiran positif senantiasa menyertai
Mau tidak mau, introspeksi akan senantiasa berpasangan dengan cara berpikir positif. Sebab keinginan untuk memperbaiki diri itu lahir dari rahim pemikiran yang baik.

* Mandiri dan mudah menyesuaikan diri dimanapun berada
Ketika sudah memiliki sifat mawas diri, maka tidak akan sulit melakukan evaluasi. Kepribadian semacam ini akan menumbuhkan kemandirian sikap. Tidak tergantung orang lain.

* Kesuksesan akan selalu berteman dengan takdir
Orang sukses adalah orang yang suka belajar hal baru, mau membuka diri terhadap perubahan, masukan dan saran, tidak khawatir akan kritikan, menyukai tantangan dan siap jatuh bangun bekerja keras. Introspeksi diri adalah inti dari sifat-sifat tersebut.

Melalui introspeksi diri, kita akan lebih mudah menentukan tujuan hidup kedepan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena setelah dilakukan introspeksi, kita jadi tahu apa yang sudah membawa kita ke puncak keberhasilan dan juga sebaliknya apa yang sudah membawa kita ke jurang kegagalan.

Jadi,, lakukan introspeksi kemudian janganlah ragu untuk mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk.

Jumat, 14 Desember 2018

Jadilah Pemberani

Kita sering mendengar kata berani. Berani mati. Berani karena benar. Berani berhijrah. Apa sich berani itu???

Berani menurut KBBI adalah mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya.

Salah satu film yang menggambarkan tentang keberanian dan sangat berkesan bagi saya adalah film 300. Film perang epik fantasi yang berdasarkan serial komik dengan judul yang sama yang ditulis oleh Frank Miller dan Lynn Varley. Keduanya retelling fiksi dari pertempuran Thermopylae dalam perang Persia. Film ini berkisah tentang King Leonidas (Raja Sparta) yang memimpin 300 Spartans melawan serangan 'Dewa' Raja Xerxes dengan jumlah pasukan lebih dari 300.000 prajurit. Walaupun akhirnya King Leonidas dan 300 Spartans kalah disebabkan adanya penghianatan dari dalam, mereka menunjukan bahwa mereka adalah prajurit pemberani pembela kebenaran dan harga diri.

Berani itu tidak hanya berkutat masalah perkelahian, perang atau adu fisik saja. Menurut Buya Hamka dalam bukunya 'Falsafah Hidup', keberanian itu terbagi dalam dua kategori. Keberanian semangat dan keberanian budi.

Keberanian semangat ini contohnya ada pada diri prajurit yang sedang berperang. Dia akan melakukan segalanya untuk kemenangan perang. "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung" kalau istilahnya orang Jawa.

Sedangkan keberanian budi adalah keberanian menyatakan suata perkara yang diyakini sendiri kebenaranya, walaupun beresiko akan dibenci orang.
Dalam Islam yang demikian dikenal dengan amar ma'ruf nahi mungkar,, menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat jahat.

Buya Hamka menegaskan, "Tidaklah suatu bangsa akan tegak, dan suatu faham dapat berdiri, kalau diantara bangsa itu sendiri tidak ada yang berani menyatakan kebenaran".
Nabi Muhammad SAW bersabda :
" Katakanlah yang benar walaupun itu pahit". (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab sangat suka kepada siapapun dari kaum muslimin yang pemberani dan tidak segan mengambilnya sebagai orang kepercayaan.
Pernah pada suatu waktu Umar bin Khattab berperkara dengan seorang Badui dalam hal transaksi jual beli kuda. Ketika dibeli kuda tersebut dalam keadaan baik, tidak cacat sedikitpun. Tapi ketika perjalanan ke rumah tiba-tiba kuda itu pincang. Umar pun mengembalikan kuda tersebut kepada si Badui. Si Badui mengatakan keberatan dan ingin perkaranya dengan Umar bin Khattab diselesaikan oleh seorang Hakim.

Syuraih ibn Al Harist Al Kindi pun dipercaya oleh keduanya untuk mengadili perkara tersebut.
Syuraih pun bertanya kepada Umar, "Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul Mukminin?"
"Ya, saya menerima kuda itu dalam keadaan tanpa cacat," jawab Umar.
Syuraih pun menjawab, "Kalau begitu, simpanlah apa yang sudah engkau telah beli. Jika ingin mengembalikannya, maka kembalikanlah seperti sedia kala tanpa cacat", tegas Syuraih.
Sembari tertawa Umar pun berkata, "Hanya begini keputusannya? Hanya sesederhana ini?"
Syuraih menjawab dengan tegas, "Ya demikianlah keputusanku, wahai Amirul Mukminin."
Mendengar ucapan Syuraih, Umar selaku pemimpin berkata, "Beginilah seharusnya putusan itu, diucapkan dengan pasti(berani) dan ditetapkan dengan adil. Pergilah engkau ke Kuffah yang banyak persengketaannya. Aku mengangkatmu menjadi Qadhi di sana."

Syuraih memberikan putusan dengan adil dan tegas, walaupun yang tersangkut perkara adalah seorang Khalifah. Amirul Mukminin. Umar bin Khattab.Dia tidak berat sebelah dalam putusannya.

Firman Allah SWT dalam surat Al Imran : 139
ولاتهِنوا ولا تخْزَنوا وانتمُ الْاعلَون انْ كنتم مؤمنين
"Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati, karena kalianlah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman."

Terhadap ayat tersebut, seorang ulama' Mesir Sayyid Qutb menjelaskan seorang muslim seharusnya memiliki sifat  berjiwa besar (berani) atau perasaan unggul yang harus dipegang teguh dalam menghadapi segala sesuatu, segala situasi, semua nilai dan semua orang, yakni perasaan serba unggul karena keimanan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal yang akan terjadi. Baik yang disangka atau tidak. Yang diinginkan ataupun tidak diinginkan. Dan juga banyak hal yang memberikan tekanan atau tuntutan yang berasal dari dalam diri atau orang lain. Semua tuntutan hidup yang ada, ada kalanya tidak mampu dilakukan dengan maksimal atau ada hal lain yang membatasi. Oleh karena itu diperlukan bagi seseorang untuk punya mental yang kuat dan berani dalam menghadapi persolaan tersebut. 

Kalau kita hanya menunggu,, kita akan lelah dan frustasi menunggu hal baik akan datang dengan sendirinya. Berlatihlah punya pola fikir yang percaya diri dan berani. Ciptakan peluang-peluang untuk diri sendiri. Pelajari cara untuk meraih mimpi-mimpi.

Dan itu semua bisa dimulai dengan... "action!!!"

Selasa, 11 Desember 2018

Tersenyumlah! Selain Pahala, 10 Manfaat ini Akan Engkau Dapatkan

"Masha and the Bear" adalah salah satu film animasi yang langganan di tonton oleh anak laki-lakiku. Film animasi garapan Annimacord Studios dari Rusia ini adalah salah satu serial animasi favoritnya. Tiap pagi jam 05.10 WIB tidak ketinggalan dia selalu standby didepan TV. Baru setelah itu mandi, sarapan dan barangkat sekolah. 

Kalau diperhatikan, "Masha and the Bear" memang film kartun yang asyik. Salah satu pemeran utamanya yaitu Masya, adalah anak yang sedikit nakal dan jahil. Tapi dia tidak pernah pilih-pilih kawan, pemberani dan anak yang kreatif. Selain itu semua, dia adalah anak yang selalu ceria. Semua dihadapi senyuman dan keceriaan. Istilahnya,, semua dibuat easy going aja.

Dalam kenyataan nya memang tidak mudah untuk menjalani hidup dengan cara easy going aja seperti dalam film Masya. Ketika suasana hati sedang senang karena banyaknya kenikmatan yang menghampiri, senyum merupakan sesuatu yang amat murah alias gampang. Dikit-dikit senyum,, dikit-dikit senyum. Tetapi sebaliknya, ketika kesusahan dan cobaan menerpa, senyum merupakan sesuatu yang mahal. Cemberut adalah pilihannya.

Dalam ilmu fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan bibir atau ujungnya, atau pula terkadang disertai gerakan disekitar mata. Umumnya senyum untuk menampilkan rasa senang atau kebahagiaan. Sedangkan cemberut adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat adanya emosional dalam hati karena adanya sesuatu yang membuat hati tidak nyaman. Sangat mudah untuk membedakan antara wajah yang senyum dan wajah yang cemberut, karena jelas kelihatan banget.

Seperti diketahui, dibutuhkan lebih banyak otot wajah untuk membuat seseorang cemberut dibanding tersenyum. Beberapa ahli menyatakan dibutuhkan 43 otot untuk cemberut dan 17 otot untuk tersenyum. Namun beberapa lainnya menyatakan dibutuhkan 62 otot untuk cemberut dan hanya 26 otot untuk tersenyum.

Seperti yang dikutip dari detikHealth, senyum lebih banyak manfaatnya daripada cemberut. Diantaranya adalah :

1. Senyum membuat seseorang lebih menarik
Secara tidak sadar senyum bisa membuat orang lebih menarik karena ada faktor daya tarik tertentu dan membuat seseorang terlihat lebih baik dibanding mengerutkan kening, cemberut atau menagis.

2. Senyum bisa mengubah suasana hati
Tersenyum bisa mengelabuhi tubuh sehingga membantu seseorang mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik.

3. Senyum bisa menular
Tersenyum tak hanya mengubah suasana hati orang tersebut tapi juga orang-orang disekitar, dan membuat hal-hal menjadi lebih bahagia.

4. Senyum bisa meredakan stress
Orang yang stress bisa terlihat dari wajahnya, tapi dengan tersenyum bisa mencegah seseorang tampak letih dan lelah.

5. Senyum meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Tersenyum bisa membantu sistem kekebalan tubuh untuk bekerja lebih baik dan membuat orang lebih rileks.

6. Senyum menurunkan tekanan darah
Ketika tersenyum maka ada penurunan nilai tekanan darah yang terukur.

7. Senyum bisa melepaskan endorfin, penghilang rasa sakit dan serotonin
Studi telah menunjukan senyum bisa melepaskan endorfin, senyawa yang bisa mengurangi rasa sakit secara alami dan serotonin. Ketiganya bisa menjadi obat alami.

8. Lipatan senyum diwajah bisa membuat orang terlihat lebih muda
Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum bisa membantu mengangkat wajah sehingga membuat orang tampak lebih muda.

9. Tersenyum bisa membuat orang terlihat sukses
Orang yang tersenyum akan terlihat lebih PD sehingga lebih dipromosikan, selain itu pasang senyum di setiap pertemuan akan memiliki reaksi yang berbeda.

10. Senyum bisa membantu orang tetap positif
Senyum akan membuat orang lebih positif dan mengurangi pikiran negatif.

Dalam agama pun senyum sangat dianjurkan. Orang yang tersenyum itu layaknya orang shodaqoh. Kalau shodaqoh perlu mengeluarkan harta benda, tersenyum cukup dengan menggerakkan ujung bibir tapi punya efek yang sama,, membuat orang lain senang.

Dalam Hadist nabi dijelaskan :
تبسّمُك فى وجهِ اخيك صدقةٌ
"Senyummu didepan saudaramu, adalah sedekah bagimu". (Sahih, HR. Tirmidzi. no 1956)


Dalam Hadist lain dijelaskan bahwa senyum juga adalah sebuah kebaikan,
"Jangan engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri" (HR. Muslim, no 2626)

Maka tidak perlu diragukan lagi bahwa senyum itu perlu dilakukan disetiap waktu karena begitu banyak manfaat dan faedahnya. Tetapi kita juga harus ingat, harus sesuai dengan porsi dan tempatnya. Kalau melebihi porsi dan salah tempatnya, bisa-bisa kita dianggap orang yang kerkurang 2 ons kadar otaknya,, he..he..he..

Seperti kata Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, penulis La Tahzan :
"JANGAN MENUNGGU BAHAGIA UNTUK TERSENYUM TETAPI TERSENYUMLAH UNTUK BAHAGIA"
Tersenyum ketika bahagia itu mudah, tetapi ketika menderita tersenyum itu menjadi sulit,, tapi bukan tidak mungkin.

Sudahkah anda tersenyum hari ini???

Sebelum Menua Jadilah Bermanfaat Layaknya Super Hero

Saya adalah salah satu penggemar film-film keluaran Marvel. Bukanya tidak suka super hero nya DC Comics, tapi menurut saya super hero punya Marvel lebih keren-keren. Salah satunya adalah wolverine. Sejak kecil saya suka lihat film kartunnya, ketika dewasa pun masih suka lihat. Apalagi versi film action nya,, suka banget.

Dalam filmnya, Wolverine digambarkan punya kekuatan yang luar biasa. Dia punya cakar yang bisa membelah apapun yang ada dimuka bumi selain tamengnya Captain America dan benda yang terbentuk dari adamantium, yaitu bahan dasar pembuatan cakarnya sendiri. Selain itu, tubuhnya juga bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan cepat akibat terluka atau terkena racun, hal itulah yang menyebabkan dirinya tetap awet muda walaupun lahir pada abad 18.

Jadi saya menjadi agak kebingungan dan juga tertawa ketika ada teman di Facebook yang memposting " ketika super hero menjadi tua ", dengan disertai gambar tokoh super hero Marvel yang menua dan tentunya ada Wolverine didalamnya. Kok yo bisa Wolverine menjadi tua???
Begitulah pertanyaan bodoh yang terlontar dari pikiran saya,, padahal semua juga tahu itu hanyalah gambar yang bentuknya merupakan wujud dari imajinasi pembuatnya.

Disisi yang lain, hal tersebut juga menjadikan saya berfikir "super hero saja yang punya kekuatan super bisa menua, apalagi kita manusia... "
Kalau dalam film, mati dan hidupnya tokoh utama,, menua atau awet mudanya tokoh utama,, itu adalah kekuasaan sang sutradara. Sementara kita manusia, itu adalah kekuasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia tidak bisa kita pungkiri bahwa suatu saat kita pasti akan menjadi tua. Suatu hal yang lazim dan lumrah terjadi bagi semua mahluk hidup. Kalau ada kelompok yang menamakan dirinya "menolak tua", itu bisa jadi adalah golongan orang yang sudah berumur tetapi menganggap dirinya masih punya semangat dan mampu mengerjakan layaknya seperti yang dilakukan oleh orang muda. Tapi secara fisik mereka juga sama dengan kita,, tidak akan bisa menolak yang namanya tua.

Menjadi tua itu pasti, tapi bagi kita bukan menolak atau menghindari masa tua tersebut yang utama. Tetapi bagaimana sebelum masa tersebut datang, dimana rambut tak lagi hitam,, kulit tak lagi mulus,, otot tak lagi kuat,, tulang tak lagi keras,, otak tak lagi sempurna daya fikirnya,, mata dan telinga sudah mulai berkurang daya jelajahnya,, hidup kita bisa berguna dan ada manfaatnya bagi orang lain. Layaknya super hero yang mengabdikan hidupnya untuk menolong orang lain. Penyesalan itu datangnya belakangan, itu adalah kodratnya. Kita mungkin tidak bisa menghindarinya, tetapi kita mungkin bisa meminimalisirnya.

Dalam sebuah hadist dijelaskan, ketika seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW ;
يارسولَ اللّه منْ خيرُ النّاسِ قال: من طال عمْره حسُنَ عملهُ
"Wahai Rasulallah, siapakah sebaik-baiknya manusia?" Beliau menjawab ; "Orang yang panjang umurnya dan baik amalanya." (HR. Tirmidzi)

Hadist ini menunjukkan bahwa eksistensi manusia sebenarnya tidak hanya dimonopoli golongan tertentu akan tetapi dilihat dari bagaimana hubungan dia dengan makhluk lain, apakah ia punya manfaat atau tidak, atau bahkan menjadi parasit bagi yang lain. Kita harus menjadi orang yang berguna minimal untuk diri sendiri, baru setelah itu untuk keluarga, teman bahkan berguna untuk masyarakat. Orang yang bermanfaat pasti akan dicari banyak orang,, ketika sudah meninggal pun akan tetap dikenang karena apa yang sudah dilakukan semasa hidupnya. Berbeda dengan yang tidak punya manfaat, dia akan dijauhi bahkan mungkin dikucilkan.

Lalu apa yang harus dilakukan agar bermanfaat bagi yang lain???
Mumpung masih muda,, masih kuat,, masih sehat,, masih semangat,, belum menua... belum game over.
Semua itu bisa dimulai dengan menghargai diri sendiri sehingga akan tumbuh kepercaan diri. Barulah melakukan hal-hal kecil yang bisa bermanfaat bagi orang lain:

Rasulullah SAW bersabda ;
بيْنَمارجلٌ يمشى بطريقٍ وجد غصْن شوكٍ على الطّريقِ فاءخذهُ فشكراللّه له فغفرلهُ (رواه البخاري)
"Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemukan potongan duri di jalan lalu diambilnya. Kemudian dia bersyukur kepada Allah, maka Allah mengampuninya".

Bentuk kemanfaatan yang bisa kita berikan pada orang lain bisa bermacam-macam, menurut kadar kemampuan kita. Bisa berupa harta benda, ilmu, jasa atau bentuk kemanfaatan yang lain. Yang terpenting ada action.

Nabi kita telah memberi peringatan dalam sabdanya ;

عن ابن عبّاس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : نعمتانِ مغْبونٌ فهما كثير من الناس الصحّة والفراغُ
Dari ibnu Abbas Radiyallahu anhuma, dia berkata : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang". (HR. Bukhari. no. 5933)

Hadist ini memberitakan bahwa waktu luang adalah nikmat yang luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT. Kalau kita tidak menggunakan nya untuk kemanfaatan diri dan juga orang lain, itu adalah sebuah tipuan yang bisa mengakibatkan kerugian besar. Salah satu bentuk kerugianya adalah apabila kita menggunakan waktu luang tersebut untuk perkara mubah yang tidak bermanfaat dan tidak berpahala. Apalagi kalau digunakan untuk maksiat, itu adalah sebesar-besarnya kerugian yang ada.
Kalau dalam film action ada super hero yang berperan sebagai protagonis, maka dalam kehidupan nyata kita juga bisa menjadi super hero dengan cara menjadi orang yang bermanfaat bagi mahluk hidup lainya. Tinggal pilihan kita,,

Apakah menjadi protagonis atau atau antagonis...
Apakah menjadi super hero atau penjahatnya...
Apakah menjadi Wolverine atau Magneto...
Atau menjadi pemain figuran saja...
Up to you...

Minggu, 09 Desember 2018

Penerapan Witing Tresno Jalaran Songko Kulino

Saya adalah termasuk orang yang tidak percaya tentang cinta pada pandangan pertama. Bagi saya semua butuh proses tidak ujug-ujug atau tiba-tiba saja datang begitu saja. Apalagi sebuah usaha, butuh proses panjang untuk sampai pada taraf kategori sukses. Kalau memang usahanya cepat berkembang besar karena sering mendapatkan keberuntungan, jelas keberuntungan tersebut adalah keberuntungan yang diusahakan. Seperti orang memancing yang pulang membawa tangkapan ikan yang banyak, memang dia beruntung dapat ikan banyak,, tetapi keberuntungan yang diusahakan yaitu mau membawa pancingan.. mau memasang umpan yang disukai ikan.. dan mau menaruh pancingan tersebut di tempat yang diperkirakan banyak ikannya.

Kembali pada masalah cinta. Bagi saya cinta bisa terwujud karena proses yang mendahuluinya. Kalau pandangan pertama seorang laki-laki pada perempuan dan ada rasa ketertarikan,, itu bukan cinta. Bisa jadi itu adalah rasa kagum, senang atau suka, bahkan mungkin nafsu,, tapi bukan cinta.
Seperti sebuah ungkapan orang Jawa,  "witing tresno jalaran songko kulino". Kalau diartikan, pengertian nya adalah cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Bukanya saya menganjurkan untuk pacaran agar terciptanya sebuah cinta, tetapi masih ada cara lain yang lebih islami untuk menumbuhkan cinta tersebut. Yaitu ta'aruf dan kalau sudah merasa cocok lalu menikah. Barulah "songko kulino" yang artinya dari terbiasa tersebut akan menumbuhkan cinta yang sesungguhnya.

Itu juga yang terjadi antara diriku dan juga ibu dari anak ku. Dulu kami berada dalam satu lembaga pendidikan, jadi sering bertemu dan kenal satu sama lain tetapi tidak pernah terjadi apa-apa,, apalagi pacaran. NO. Baru pada semester akhir ada benih-benih rasa suka dan diteruskan ta'aruf dengan keluarga.. dan diteruskan menikah.. dan diteruskan membina rumah tangga.. dan diteruskan dengan yang lain sebagainya..

"Songko kulino" itulah yangg memupuk cinta diantara kami.
Terbiasa bersama..
Terbiasa berinteraksi..
Terbiasa menerima kekurangan dan kelebihan..
Terbiasa saling mendukung.. 
Dan terbiasa-terbiasa yang lain yang menyebabkan cinta kami yang awalnya sebesar bukit mondoleko menjadi sebesar gunung semeru... uhuuyy!!

"Witing tresno jalaran songko kulino" itu tidak melulu hanya berlaku untuk masalah percintaan. Banyak hal lain yang sebab songko kulino itu bisa menjadi tresno. Semisal sebuah pekerjaan. Karena terbiasa melakukan pekerjaan tersebut dan secara terus-menerus terjadi maka akan menumbuhkan cinta dan menjadikan kita profesional didalamnya. Tentu diawal harus ada rasa suka dahulu yang ditanamkan. Kalau sudah tidak ada rasa suka tentu kita tidak akan mau menjalani pekerjaan tersebut terus-menerus.

"Witing tresno jalaran songko kulino" itu juga berlaku pada hal-hal yang berhubungan dengan ritual keagamaan. Kita semua tahu bahwa dalam Islam telah diwajibkan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Ada sholat Jum'at yang dilaksanakan seminggu sekali,  dan ada sholat lain yang disunahkan dilakukan dalam waktu-waktu tertentu.

Mengapa semua itu kok di perintahkan?

Tidak lain tujuannya adalah agar tumbuh rasa cinta dari seorang hamba kepada Tuhannya. Coba bayangkan kalau ibadah itu hanya dilakukan satu bulan sekali,, bagaimana bisa tumbuh rasa cinta kalau berhubungan saja jarang!!!
Pada sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A,  Nabi Muhammad SAW bersabda: 

يقول اللّه تعالى : انّاعند ظنّ عبدى بى وانّا معه اذا ذكرنى فاِنْ ذكرانى فى نفسه ذكرته فى نفسى واِن ذكرانى فى ملاء ذكرته فى ملاء خير منهم واِن تقرّب اليّ بشبْر تقرّبتُ اليه ذراعًا وان تقرّب اليّ ذراعًا تقرّبتُ اليه باعًا وان اتانى يمشى اتيته هزْولةً (رواه البخارى، رقم ٧٤٠٥ - ومسلم، رقم ٢٦٧٥

"Allah Ta'ala berfirman : 'Aku tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingatKu. Kalau dia mengingatKu pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diriKu sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR Bukhari, no. 7405 dan HR Muslim, no. 2675)

Semakin kita mendekat kepada Allah, maka Allah juga akan semakin dekat dengan kita,, dan rasa cinta itu akan tumbuh besar dengan sendirinya.
Demikian pula apabila kita ingin memupuk rasa cinta kepada baginda nabi Muhammad SAW,  maka kita juga harus sering bersholawat pada beliau sehingga cinta kita juga akan semakin melekat pada beliau.

Pada bentuk penerapan yang lain, "witing tresno jalaran songko kulino" juga merupakan bentuk istiqomah dari suatu pekerjaan/kegiatan. Yaitu sebuah pekerjaan/kegiatan yang dilakukan secara disiplin dan terus-menerus. Seperti sholat yang apabila kita kerjakan secara istiqomah, maka kita akan merasa menyesal apabila meninggalkan nya karena rasa cinta kita pada sholat tersebut.
Itulah mengapa pekerjaan yang dilakukan secara istiqomah akan menjadikan diri kita ahli dan profesional didalamnya.

Kamis, 06 Desember 2018

Ikhtiarku dan Harapanku

Pada suatu waktu ketika aku browsing gambar kartun yang rencananya akan aku jadikan profil akun untuk istriku, aku menemukan sebuah gambar kartun gadis berhijab disertai topi lebar diatasnya dan ada tulisan kecil disampingnya yang berbunyi " Hasil tidak akan menghianati ikhtiar " . 

Tulisan yang sebenernya sudah berkali-kali aku dengar dan aku lihat pada media-media yang lain walaupun dalam bentuk lafad yang agak berbeda tetapi menurutku esensinya sama. Tetapi entahlah pada waktu itu tulisan tersebut begitu melekat dihatiku. Aku sendiri sebenarnya juga merasa semenjak hari bersejarah itu hatiku selalu gampang baper dalam hal apapun. Tetapi kebanyakan baperku pada hal-hal yang beraroma negatif yang mengakibatkan diriku menjadi merana, bersedih bahkan frustasi. 

Melihat film yang sedih,, aku langsung ikut-ikutan sedih, ada orang yang sebenarnya ingin bercanda denganku,, aku menanggapi dengan perasaan yang berbeda,, bahkan terkadang ketika istriku menasehati anakku karena dia berbuat salah,, aku menganggap kata-kata itu juga ditujukan kepadaku.
Karena merasa cocok dengan gambar kartun berhijab tersebut, maka aku mendownloadnya dan kujadikan profil akun istriku. Memang, semenjak hari bersejarah itu untuk berselancar di dunia maya terutama medsos aku selalu menggunakan akun istriku. Sebenarnya awalnya aku tetap menggunakan akun milikku sendiri, tetapi karena banyak yang bertanya tentang keadaanku dan ternyata keadaanku selama beberapa tahun tidak ada perubahan yang berarti aku menjadi bingung menjawabnya. Aku menjadi minder dan menutup diri tidak hanya dikeseharianku akan tetapi juga didunia maya.

Akan tetapi karena untuk mengusir rasa bosan yang melanda, akhirnya aku tetap sering menggunakan internet dan tentunya menggunakan nomer serta akun istriku. Kalau dalam sebuah peribahasa ada istilah " lempar batu sembunyi tangan ", maka istilah yang aku pakai adalah " melihat batu sembunyi mata..." Ha..ha..ha...

Aku teringat dahulu pernah ketika ngaji guruku menerangkan bahwa kategori manusia bila dihubungkan dengan sebuah kebahagiaan maka terbagi menjadi empat, yaitu ; 
1.  Orang yang bahagia di dunia dan juga bahagia di akhirat.
2.  Orang yang bahagia didunia akan tetapi sengsara di akhirat.
3.  Orang yang sengsara didunia akan tetapi bahagia diakhirat.
4.  Orang yang sengsara didunia akan tetapi juga sengsara di akhirat.

Aku tidak ingin menjadi golongan orang yang ke 4. Kalau masalah diakhirat itu adalah hak prerogratif Allah. Yang penting kita berbuat baik pada sesama dan berusaha beribadah sebaik mungkin. Kalau masalah kebahagian di dunia, aku yakin hal tersebut perlu diusahakan tidak hanya pasrah terhadap keadaan yang menimpa kita. Kebahagiaan tidak hanya melulu masalah melimpahnya harta benda, masih banyak bentuk kebahagian yang lain yang bisa didapati walaupun terkadang seringnya itu juga tetap perlu sokongan dana...
He..he..he..

Dalam Al Qur'an surat Ar Radd : 11, telah dijelaskan :

انّ اللّه لايغيّروا مابقوم حتّى يغيّروا مابانفسهم
"Sesungguhnya Allah tidah merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri"


Aku terus meyakinkan pada diriku sendiri bahwa kebahagiaan itu dimulai dari diri sendiri. Orang lain tidak akan bisa memberikan kebahagiaan pada kita kalau diri kita sendiri belum siap menerima kebahagiaan tersebut. Orang yang terlanjur frustasi walaupun ada yang memberinya mobil alphard belum tentu dia menjadi bahagia, kecuali kalau frustasinya disebabkan karena dia ingin punya mobil tapi tidak kesampaian,, he..he..

Berdasarkan apa yang aku rasakan, orang yang terlanjur frustasi kecenderungan nya ingin keluar dari masalah yang dia hadapi dengan cara apapun dan salah caranya adalah dengan meninggalkan dunia ini alias bunuh diri. Dan dari berita yang aku lihat dan baca itu banyak terjadi.
Oleh karena itu aku tidak ingin hal tersebut terjadi pada diriku, karena jelas itu akan menjadikanku anggota golongan orang yang nomer 4, yaitu orang yang sengsara didunia akan tetapi juga sengsara di akhirat. Naudzubillahi min dzalik.
Itulah sebabnya kata-kata yang ada pada gambar kartun berhijab itu begitu membekas dihatiku, yaitu hasil tidak akan menghianati ikhtiar .
Kata ikhtiar merupakan serapan dari bahasa arab yang berasal dari kata اختار yang berarti memilih.
Memilih antara sejahtera atau sengsara..
Memilih antara berkecukupan atau kekurangan..
Memilih antara bahagia atau tetap menderita..
Sedangkan menurut KBBI, kata ikhtiar berarti syarat untuk mencapai sebuah maksud ; daya upaya. Kebahagiaan yang aku impikan tidak akan datang dengan sendirinya tanpa adanya awalan dari dalam diriku sendiri. Dalam arti aku harus mengusahakan kebahagiaan tersebut bukan malah pasrah terhadap apa yang terjadi. Kalau toh pun hasilnya tidak sesuai dengan yang aku harapkan, bukan berarti itu mengkhianati ikhtiar yang sudah aku lakukan...
Tetapi mungkin Allah SWT memilih hal tersebut karena itu adalah pilihan yang terbaik bagi diriku.
Yang terpenting,,, aku akan tetap bahagia dengan yang aku punya...

Rabu, 05 Desember 2018

Berbedakah Bersyukurku? Antara Dahulu dan Sekarang

Dahulu ketika kecil aku pernah berfikir bahwa menjadi orang dewasa itu kelihatanya lebih enak. Bisa lebih banyak melakukan kegiatan tanpa ada yang melarang, kumpul - kumpul sama teman tanpa harus disuruh pulang, bisa pergi kemanapun dan kapanpun sesuka hati.
Tetapi ketika sudah dewasa ternyata pemikiranku menjadi sebaliknya, lebih enak menjadi anak - anak...

Tidak harus berpikir tentang beban tanggung jawab, tidak perlu memikirkan status sosial, bisa acuh tak acuh pada lingkungan sekitar, bahkan melakukan sebuah kesalahan pun pasti dimaklumi kerena masih anak - anak.
Ternyata... diriku juga bagian dari golongan orang - orang yang belum bisa menerima sebuah keadaan diri dengan ikhlas, atau kalau bahasa ngetrend nya kurang bersyukur...
He... he... he...

Begitu juga kehidupanku sebelun hari bersejarah itu, kalau aku flashback sebenarnya kehidupanku walaupun dikatakan belum mapan tetapi alhamdulillah dalam hal kebutuhan pokok tidak pernah kekurangan walaupun juga dalam kategori sederhana. Alhamdulillah nya juga sudah ada seorang istri yang menemani dan dikaruniai seorang anak. Tetapi mungkin akunya juga yang kurang (bukan tidak lho ya...) bersyukur. Dalam arti belum bisa bersyukur seperti bersyukurnya orang yang berjalan dibawah pohon kelapa dan ada buah kelapa yang jatuh tepat disampingnya tanpa mengenai tubuhnya...
Atau mungkin bersyukurnya orang yang mengalami kecelakan dari motor dan ternyata motornya masih utuh dan dirinyapun tidak mengalami luka apapun...

Tetapi setelah hari bersejarah itu, rasa bersyukurku menjadi seperti hilang sama sekali. Aku juga merasa ketika mendapati keadaraan buruk tersebut yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, berasa amat sangat sulit sekali untuk bisa menerima keadaan seperti itu.
Yang dahulunya bisa pergi kemana-mana sesuka hati, sekarang harus bedrest total diatas kasur...
yang dahulunya bisa beraktivitas dengan segenap kemampuan, sekarang hanya diam dengan rasa nyeri yang melanda setiap waktu...
Yang dahulunya bisa begini - begitu, sekarang hanya bisa begini - begini saja...
Bahkan pikiran untuk mati saja selalu berkecamuk dikepalaku.

Aku dulu juga ingat ketika sebelum hari bersejarah itu, mulai baligh sampai dewasa aku belum pernah menagis sekalipun dalam keadaan apapun. Memang pernah suatu ketika kala masih kelas 2 tsanawiyah (setingkat SMP) waktu itu dikirim mewakili sekolah mengikuti seleksi jambore nasional di Banyuwangi, aku hampir menangis (tapi tidak sampai meneteskan air mata) ketika berpamitan kepada bapak ibu. Perasaanku waktu itu campur aduk antara takut bercampur bingung karena sebelumnya aku belum pernah pergi jauh sendirian.

Tetapi setelah hari bersejarah itu, hampir tiap hari linangan air mata selalu menghiasi hari - hariku. Nonton tv kalau acara atau filmnya bertemakan kesedihan pun pasti membuatku menangis karena teringat keadaanku, sesuatu keadaan yang belum pernah terjadi pada diriku sebelumnya. Bahkan kalau kakak ku datang menjenguk aku selalu menangis sejadi- jadinya....
sampai beliau bingung dan pernah bertanya " apakah kami salah membawamu kerumah sakit bukan ke pengobatan lainnya... "
Sebenarnya usaha keluargaku untuk mengusahakan kesembuhanku sudah dilakukan dengan beberapa metode pengobatan, tetapi mungkin Tuhan Yang Maha Kuasa belum memberikan izin atas kesembuhanku.

Setelah hari bersejarah itu, selang waktu demi waktu, bulan demi bulan, bahkan butuh tahun demi tahun untuk diriku bisa mulai menerima keadaanku. Kalau kata orang bijak waktu yang akan menyembuhkan segalanya... kelihatanya itu juga berpengaruh pada diriku.

Dengan ketelatenan istriku yang merawat dan tetap setia menemani dalam keadaan apapun disertai perhatian dari seluruh keluarga dan saudara - saudaraku, semangat untuk tetap menjalani hidup mulai tumbuh dalam diriku. Menonton ceramah - ceramah agama yang khususnya bertemakan tentang cobaan mulai sering aku lakukan. Ternyata selain meratapi hilangnya beberapa kenikmatan yang ada pada diri kita, masih banyak kenikmatan lain yang kadang tidak kita sadari sehingga tidak mendapat perhatian dari kita.
Dalam surat An Nahl : 18 , disebutkan ;

وان تعدّوا نعمة اللّه لاتحصوها،
" Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya,"


Hilangnya beberapa kenikmatan dalam diri kita terkadang membuat diri kita buta bahwa masih banyak kenikmatan di alam ini yang utamanya berhubungan dengan diri kita yang patut kita syukuri.
Didalam surat Ar Rahman yang terdiri dari 78 ayat, terdapat satu ayat yang lafadnya diulang-ulang sampai 31 kali yaitu ;

فباءىّ ءالاء ربّكما تكذّبان
" Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? "


Hal ini menunjukan bahwa begitu banyaknya nikmat yang Allah limpahkan kepada manusia.
Pada akhir ayat tersebut berbunyi تكذّبان  yang artinya kamu dustakan, bukan menggunakan lafad yang artinya ingkar.
Karena seorang hamba atau manusia tidak bisa mengingkari nikmatNya, dia hanya bisa mendustakanya saja seolah- olah kenikmatan yang ia peroleh adalah hasil kerja kerasnya saja tanpa ada campur tangan Allah didalamnya.

Pada akhirnya aku mulai menyadari, bahwa meratapi sebuah musibah itu adalah sesuatu yang sulit untuk dihindari karena pada dasarnya setiap manusia tidak ada yang menginginkan musibah itu datang, akan tetapi mensyukuri sesuatu yang tidak kita inginkan adalah bukan hal yang mustahil. Karena seperti petuah dari pada para alim ulama' bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari keberadaannya.

Selasa, 04 Desember 2018

Hari Bersejarah yang Mengubah Hidupku

Kata bersejarah merupakan kata turunan dari kata sejarah, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan kejadian dan peristiwa yang benar - benar terjadi di masa lampau.

Dalam alur kehidupanku banyak sekali hari bersejarah yang terjadi. Contohnya 10 November yang oleh bangsa kita diperingati sebagai hari pahlawan, disisi yang lain tanggal tersebut juga hari yang bersejarah bagi diriku karena sesuai dengan sebuah akte kelahiran tertulis bahwa itu adalah tanggal lahirku. Aku khusnudzon dan selalu berharap bahwa 10 November yang diperingati sebagai hari pahlawan....  kalau orang Jawa bilang nglabeti (berimbas) pada kehidupanku sehingga hidupku juga berguna bagi orang lain layaknya para pahlawan yang telah punya segunung jasa - jasa bagi bangsa ini.

Salah satu hari bersejarah yang lain yang aku miliki adalah hari Selasa 23 September 2014. Hari dimana kehidupan ku berubah 180°, dimana kalau hari - hari sebelumnya senyuman kecil dan lebar banyak terpancar dari wajahku...
Semenjak hari itu berubah menjadi tetesan air mata yang hampir setiap hari berlinang di mataku.
Hari tersebut merupakan hari dimana terjadilah sebuah kejadian yang menurut dokter menyebabkan bergesernya beberapa ruas dari tulang belakang yang akibat fatalnya menjadi terputusnya syaraf tulang belakangku sehingga organ bawahku menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Aku masih sangat jelas ingat ketika melakukan kontrol ke rumah sakit, dokter mengatakan "anda harus belajar tetap hidup walaupun dalam keadaan seperti ini". Kata - kata yang mambuatku menangis sejadi-jadinya ketika perjalanan pulang kerumah.

Aku tidak mungkin menyalahkan siapapun atas kejadian tersebut, karna itu adalah buah ketidak hati-hatianku sendiri dalam melakukan sebuah pekerjaan. Lagi pula keluargaku sudah membawaku kesalah satu rumah sakit terbaik yang ada dan dengan penanganan dokter spesialis yang sudah bergelar Sp.OT, (K) Spine.

Ya mungkin inilah memang jalan kehidupan yang harus aku lalui. Diterima ataupun tidak diterima, tidak akan mengubah kejadian yang telah terjadi. Walaupun aku tidak menerimanyapun tidak akan lantas menyebabkan aku pulih seperti sediakala. Kakak ku selalu mengatakan ketika aku masih dirawat dirumah sakit " Alloh itu tidak akan memberi cobaan pada umatNya diluar batas kemampuannya ". Kata - kata yang selalu aku ingat dan selalu aku jadikan pegangan sampai saat ini.
Seperti dalam surah Al Baqarah : 286
   لا يكلف الله نفساالاوسعها
" Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya "

Aku percaya bahwa jikalau Allah memberikan cobaan atas diriku seperti ini, berarti Allah juga mempercayaiku jika aku juga sanggup melaluinya.

Aku tidak akan menyerah terhadap apa yang menimpa diriku, karena aku juga percaya bahwa tidak ada hasil yang menghianati ikhtiar. Selanjutnya aku pasrahkan kepada Allah SWT atas apapun yang terjadi selanjutnya, karena Dialah yang Maha segalanya.